Senin, 25 Januari 2010

FILSAFAT AL-RAZI

A. BIOGRAFI AL-RAZI
Nama lain dari Al-Razi adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ibnu Yahya Al-Razi, beliau dilahirkan di Ray pada 1 Sya’ban 251 H (204-395). Masa mudanya, beliau menjadi tukang intan, penukar uang, dan sebagai pemusik kecapi. Ia cukup respek terhadap ilmu kimia, sehingga kedua matanya buta akibat eksperimen yang dilakukannya.
Al-Razi juga belajar ilmu kedokteran (Obat-Obatan ). Dengan tekun seorang dokter dan filosof yang lahir di meru pada tahun 192 H/ 808 M. yang bernama Ali Ibnu Robban Al-Thabari , Al-Razi terkenal sebagai seorang dokter yang dermawan, penyayang pada pasiennya, karena itu dia sering memberikan pengobatan Cuma-Cuma pada orang miskin, namun ungkapan Abdul Latif Muhammad Al-Abd terlalu berlebihan, yang menyatakan Al-Razi tidak memiliki harta sampai dia meninggal dunia, kenyataannya ia sering pulang pagi antara baghdad dan Ray, hal ini menunjukkan bahwa beliau masih punya uang.
Menurut al-nadim Al-Razi belajar filsafat kepada Al-Baikhi, menguasai filsafat dan ilmu-ilmu kuno. Disiplin ilmu al-razi meliputi falak, matematika, kimia, kedokteran, dan filsafat.
B. KARYA-KARYA AL-RAZI
Al-Razi termasuk orang yang aktif dalam berkarya, buku-bukunya sangat banyak, bukunu-bukunya mencakup dunia kedokteran, ilmu fisika, logika, matematika, Astronomi, komentar-komentar, ringkasan dan ikhtisar, filsafat dan ilmu pengetahuan Hipotesis, Athiesme, dan campuran, karya- karya yang dimaksud adalah:
• Kitab al-asrar ( bidang kimia, diterjemahkan kedalam bahasa latin oleh Gerad Of Crenon ).
• Al-hawi adalah ensiklopodia kedokeran sampai abad ke 16 di eropa, setelah diterjemahkan kedalam bahasa latin tahun 1279 dengan judul Continens.
• Al-mansuri liber al-mansaris ( bidang kedokteran, 10 jilid).
• Kitab al-judar wa al-hasbah (tentang analisa penyakit cacar dan campak serta pencegahnya, sedangkan dalam bidang filsafat.
• Al-Thibb Al-Ruhani.
• Al-Sirah Al-Falsafiah
• Amarah Al- Iqbal Al-Dawlah
• Kitab Al-Lazd Dzah
• Kitab Al-Alim Al-Illahi
• Maqalah Fima Ba’ad Al-Thabi’iyyah
• Al-Shukuk ‘Ala Proclus
C. FILSAFAT AL- RAZI
Al- Razi adalah seorang rasionalis murni , hal itu terlihat dari karyannya Al-Thibb Al-Ruhani, ia menulis :” tuhan, sgala puji bagi-Nya yang sebanyak-banyak manfaat, inilah karunia terbaik tuhan kepada kita. Dengan akal kita dapat melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik, dengan akal kita dapat mengetahi yang gelap, yang jauh, dan yang tersembunyi dari kita. Dengan akal kita pula dapat memperoleh pengetahuan tentang tuhan.
Jika akal sedemikian penting dan mulia, kita tidak boleh menentukanya, kita tidak boleh melecehkanya, sebab ia adalah penentu, tetapi kita harus merujuk kepadanya dalam segala hal yang menentukan segala masalah denganya, kita harus sesuai dengan perintahnya.
1. Metafisikasinya
filsafat Al-Razi dikenal dengan ajaranya “ Lima Kekal” yakni :
• Allah Ta’ala
• Jiwa Universal
• Materi Pertama
• Ruang Absolute
• Masa Absolute.
Menurut Al-Razi, dua dari lima yang kekal iti hidup aktif yaitu tuhan dan jiwa/ roh universal, satu diantaranya tidak hidup dan fasif, yaitu materi dan dua lainya tidak hidup, tidak aktif dan tidak pula fasif, yakni ruang dan masa.
Allah adalah maha pencipta dan maha mengatur segala alam ini, alam diciptakan Allah bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang telah ada, karena itu semestinya alam tidak kekal, sekalipun materi pertama kekal, sebab penciptaan disini dalam arti disusundari bahan yang telah ada.
Jiwa universal adalah merupakan Al-Mabda’ Al-Qadia Al-Sany (sumber kekal yang kedua). Pada benda-benda alam terdapat daya hidup dan gerak sehingga diketahui karena ia tanpa bentuk, yang berasal dari jiwa universal juga yang bersifat kekal, tapi karena ia dikuasai naluri untuk bersatu dengan al-hayula al-ula (materi pertama). Maka terjadilah pada zatnya bentuk yang dapat menerima fisik, sedangkan materi pertama tanpa fisik, kesenangan dan kebahagiaan yang sebenarnya adalah melepaskan diri dari materi dengan jalan berfilsafat.
2. Moral
pemikiran Al-Razi tentang moral tertuang dalam ukunya Al-Thibb Al-Ruhanni dan Al-Sirah Al-Falsafiyah, bahwa tingkah laku haruslah bedasarkan bentuk rasio, hawa nafsu harus berada dibawah kendali akal dan agama. Ia memperingatkan bahaya meminum khamar yang dapat mrusak akal dan melanggar ajaran agama bahkan dapat mengakibatkan penderita penyakit jiwa dan raga yang pada giliranya menghancurkan manusia.
Factor jiwa menjadi salah satu dasar pengobatan Al-Razi, menurutnya terdapat hubungan yang erat antara tubuh dan jiwa, misalnya emosi jiwa yang berlebihan akan mempengaruhi keseimbangan tubuh, sehingga timbul keragu-raguan. Sedangkan kebahagiaan menurut al-razi adalah kembalinya apa yang telah tersingkir karena sesuatu yang telah berbahaya. Al-Razi mengutuk cinta sebagai suatu berlebihan dan ketundukan kepada hawa nafsu, ia juga mengutuk kepongahan dan kelengahan, karena hal itu menghalangi orang dari belajar dan bekerja dengan baik.
Dusta adalah suatu kebiasaan buruk, dusta dibedakan kepada dua: untuk kebaikan yang sifatnya terpuji, dan untuk kejahatan sifatnya tercela. Jadi nilai dusta terletak pada niat, persetubuhan apabila berlebihan tidak baik bagi tubuh, karena akan mempercepat pada proses ketuaan, menjadi lemah dan menimbulkan berbagai penyakit lainya, sedangkan kecemasan yang berlebihan akan membawa seseorang kepada halusinasi dan bersikap loyo, sikap tamak dapat membawa kepada bencana. Karena itu perolehlah kedudukan lebih tinggi tanpa lelalui berbagai keanehan.
3. Kenabian
Al-Razi menyanggah anggapan bahwa untuk keteraturan kehidupan manusia memerlukan nabi, pendapat yang Controversial ini harus di fahami bahwa ia adalah seorang Rasionalis murni. Akal menurutnya adalah karunia Allah yang sangat terbesar untuk manusia, karena itu manusia tidak boleh menyia-nyiakan dan mengekang ruang gerak akal, akan tetapi memberi kebebasan sepenuhnya dalam segala hal.
Pandangan Al-Razi yang mengkultuskan kekuatan akal tersebut menjadikan ia tidak percaya kepada wahyu dan adanya nabi seperti yang di utarakan dalam bukunya Naqd Al-Adyan Aufi Al-Nubuwwah (kritik terhadap agama-agama atau terhadap kenabian). Menurutnya, nabi tidak berhak mengklaim dirinya sendiri sebagai seorang yang memiliki keistimewaan khusus, baik fikiran maupun rohani, karena semua orang itu adalah sama dan keadilan tuhan serta hikmah-Nya mengharuskan tidak membedakannya antara seseorang dengan yang lainya.
Perbedaan manusia timbul karena berlainan pendidikan dan berbedanya suasana perkembangannya, al-razi juga mengatakan tidak masuk akal tuhan mengutus para nabi, padahal mereka ( Nabi) juga tidak luput dari kesalahan atau kekeliruan. Setiap bangsa hanya percaya pada nabinya, dan tidak mengakui nabi bangsa lain, akibatnya terjadilah peperangan keagamaan dan perpecahan dan kebencian antara bangsa karena kefanatikan kepada agama bangsa yang dipeluknya.
Menurut Al-Razi kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti, karena bila tubuh hancur maka ruh juga hancur. Al-razi juga mengkritik kitab-kitab suci baik injil maupun al-qur’an, ia menolak mu’jijat al-qur’an baik dari segi isi maupun dari gaya bahasanya, menurutnta orang bisa saja menulis kitab yang lebih baik dan kata bahasa yang lebih indah. Dalam hal ini bukan berarti al-razi bukan seorang atheis, karena ia masih tetap meyakini adanya tuhan yang maha kuasa yakni Allah swt. Dan Al-Razi juga tidak lupa mengucapkan shalawat kepada Nabi saw.


D. KESIMPULAN
Al-Razi adalah seorang filosof yang hidup pada masa pendewaan akal secara berlebihan, ia seorang muslim, tapi muslim yang tidak sempurna, karena ia tidak mempercayai adanya wahyu dan kenabian. Ia seorang yang bertuhan dan mengakui adanya tuhan maha pencipta, tetapi ia tidak mengakui wahyu dan ajaran-Nya. Sebaliknya ia mempercayai kemajuan dan pemikiran manusia.

























DAFTAR PUSTAKA

Hasyim Syah Nasution, 2005, Filsafat Islam. Gaya Media Pratama : Jakarta.
Mustofa Ahmad. 2007. Filsafat Islam. Pustaka Setia Bandung.
Sirajudin Zar, 2004. Filsafat Islam. (Filosof Dan Filsafatnya): Padang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar