Selasa, 27 Mei 2008

Prinsip-Prinsip Manajemen


Prinsip- prinsip manajemen itu terbagi pada 3 bagian antara lain sebagai berikut; prinsip manajemen berdasarkan sasaran, prinsip manajemen berdasarkan orang, dan prinsip manajemen berdasarkan informasi.

Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran.

Manajemen berdasarkan sasaran adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan menjadi satu kesatuan, berdasarkan pada sasaran yang ingin dicapai yaitu tujuan pendidikan itu sendiri.

Manajemen Berdasarkan Sasaran dikenal dengan istilah MBS. Istilah MBS pertama kali dipopulerkan sebagai suatu pendekatan terhadap perencanaan oleh Peter Drucker (1954). Manajemen berdasarkan sasaran merupakan tekhnik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tahapan tujuan organisasi. Manajer tingkat atas bersama-sama dengan manajer tingkat bawah bersama-sama menentukan tujuan unit kerja agar serasi dengan tujuan organisasi.

Tujuan organisasi ialah segala sesuatu yang harus dicapai organisasi dalam melaksanakan misinya. Pada setiap tingkat organisasi diperlukan komitmen para manajer pada pencapaian sasaran perseorangan dan sasaran organisasi secara efektif.

Adapun siklus atau proses MBO itu dibedakan menjadi tiga: 1). Identifikasi tujuan, tanggung jawab, dan tugas-tugas, 2). Pengembangan standar prestasi (performance), 3). Pengukuran dan penilaian prestasi. MBO ( Manajemen by Objectivitas) Menurut Reddin (1971) sistem ini dapat efektif jika mengandung berbagai unsur sebagai berikut:

- Komitmen Pada program, maksudnya keterlibatan setiap tingkat manajer sangat dibutuhkan karena management by objectivitas membutuhkan banyak waktu dan tenaga.

- Penentuan sasaran pada tingkat puncak, artinya manajer puncak menetapkan terlebih dahulu tujuan pendahuluan setelah berkonsultasi dengan anggota organisasi.

- Sasaran individu maksudnya penentuan tujuan setiap tingkat untuk membantu para karyawan apa yang diharapkan dari mereka.

- Peran serta aktif semua tingkatan manajer sangat menentukan tercapai tidaknya sasaran. Semakin besar peran serta manajer dalam menentukan sasaran semakin besar pula kemungkinan mencapainya.

- Otonomi dalam pelaksanaan rencana, artinya setiap individu mempunyai keleluasaan memilih sarana untuk mencapai sasaran.

- Penilaian prestasi, artinya harus ada evaluasi yang dilakukan secara terprogram untuk menilai kemajuan menuju sasaran.

- Keunggulan Managemen by objectivita:

a) Pengelolaan dan fungsi struktur organisasi harus jelas

b) Peranan dan fungsi struktur organisasi harus jelas.

c) Pengawasan lebih efektif berkembang.

- Kelemahan Management by objectivitas:

a) Tidak mudah menanamkan pemahaman tentang konsep-konsep dan pemberian motivasi kepada bawahan untuk mempelajari penggunaan tekhnik MBO secara tepat.

b) Tidak mudah menentukan tujuan dengan memberikan kesempatan kepada para anggota untuk berpartisipasi

c) Tidak mudah menilai prestasi kerja, Karena tidak setiap prestasi dapat diukur secara kuantifikasikan.

d) Perubahan yang diinginkan MBO dalam perilaku manager kemungkinan akan menimbulkan masalah dalam proses MBO titik berat akan bergeser dari menilai menjadi membantu bawahan.

- Proses

Istilah managemen by objectivitas pertama kali dipakai oleh Peter Drucker pada tahun 1954 dalam bukunya The Principle Of Management. Sebagai pendekatan manajemen, MBO dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli teori manajemen, di antaranya Douglas McGregor, George Odiorner, dan John Humble.

Sistem managemen by objectivitas tujuh langkah, yaitu:

1. tentukan hasil-hasil akhir

2. Tentukan apakah dia bertautan dengan tujuan organisasi

3. atasan bersama-sama dengan bawahan berunding dalam menentukan sasaran-sasaran.

4. Menyusun kegiatan untuk mencapai sasaran-sasaran

5. Susunlah tugas-tugas

6. Tentukan batas-batas pekerjaan dan jenis pengarahan yang akan dipergunakan oleh atasan

7. Monitor dan laporan.

Produktivitas yang tinggi akan muncul keterlibatan pribadi/ personel dalam menentukan sasaran-sasaran pekerjaan dan bagaimana sasaran-sasaran tersebut bertautan dengan sasaran-sasaran organisasi. Keikutsertaan tersebut akan mempengaruhi:

- Komitmen

- Disiplin dan moril (semangat juang)

- Keterpaduan

- Produktivitas

- Penampilan

Prinsip manajemen Berdasarkan Orang

Manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterlibatan dimensi perilaku, komponen system dalam kaitannya dengan perubahan dan pengembangan organisasi. Manajer pada umumnya bekerja pada lingkungan yang selalu berubah. Perubahan lingkungan yang bermacam-macam menuntut organisasi selalu menyesuaikan diri. Salah satu upaya yang paling penting adalah dengan mengembangkan sumber daya manusia. Perubahan perilaku dan perubahan organisasi merupakan bagian esensial dari manajemen inovasi sebagai dampak globalisasi di berbagai bidang kehidupan.

1) Hakikat Perubahan

Perubahan adalah suatu proses yang menjadikan sesuatu/situasi yang berbeda dengan yang sudah ada. Perubahan itu bisa terjadi pada orang, pada struktur, dan tekhnologi. Perubahan mempunyai tujuan yang sifatnya penyesuaian diri dengan lingkungan agar tujuan organisasi sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan masyarakat.

2) Proses Perubahan

Dalam kenyataannya, proses perubahan itu tidak selamanya lancar. Banyak hal yang memungkinkan perubahan mengalami berbagai hambatan. Menurut teori Medan Kekuatan dari Kurt Lewin (James F. Stoner, 1985) setiap perilaku merupakan hasil keseimbangan antara kekuatan pendorong dengan kekuatan penolak.

3) Tekhnik Perubahan

Salah satu tekhnik yang sering digunakan dalam OD adalah sensitivity training atau latihan kepekaan. Latihan kepekaan adalah suatu interaksi dalam kelompok kecil yang terjadi dalam suasana yang tertekan, sehingga menuntut setiap orang untuk peka terhadap perasaan orang lain sebagai usaha untuk menciptakan kegiatan kelompok yang memadai. Pada tahap awal ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi orientasi tugas yang tinggi. Pada tahap ini bawahan harus diperintah dan diperkenalkan dengan aturan dan prosedur organisasi. Pada tahap kedua bawahan mulai mempelajari tugas, manajer masih berorientasi kepada tugas karena bawahan belum bersedia untuk menerima tanggung jawab secara penuh. Tetapi kepercayaan dan dukungan manajer kepada bawahan meningkat karena manajer menjadi kenal bawahan dan mau mendorong lebih lanjut. Di sini manajer mulai menggunakan perilaku yang berorientasi kepada bawahan. Artinya pada tahap ini baik tugas maupun hubungan tinggi. Pada tahap ketiga, kemampuan dan motivasi prestasi bawahan makin meningkat, dan bawahan secara aktif mulai mencari tanggung jawab yang lebih besar. Pada tahap keempat, ketika bawahan secara berangsur-angsur menjadi lebih percaya diri, manajer mengurangi dukungan dan dorongan. Bawahan berada di jalan mereka sendiri dan tidak lagi mengharapkan hubungan direktif dengan manajer. Artinya pada tahap ini baik hubungan maupun tugas berada pada tingkat yang rendah.

3. PrinsipManajemen Berdasarkan Informasi

Menurut Shrode D. Voich Informasi merupakan sumber dasar bagi organisasi dan esensial agar operasionalisasi dan manajemen berfungsi secara efektif. Informasi yang dibutuhkan oleh manajer berkenaan dengan konsumen, pemasok, dan lingkungan untuk menentukan pilihan dan perencanaan.

Gordon B. Davis (1974) mengartikan system informasi manajemen sebagai sebuah system manusia/ mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi.

Ada beberapa persyaratan agar informasi yang dibutuhkan itu dapat berfungsi, bermanfaat bagi pengambil keputusan, yaitu: 1) Uniformitas, 2) Lengkap, 3) Jelas, dan 4) Tepat waktu..

Fungsi-fungsi manajemen berdasarkan pendekatan system akan sangat ditentukan oleh informasi yang memenuhi persyaratan

RUJUKAN:

Fattah Nanang. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Libeurum: Rineka Cipta

Finarto made. 2004. Sistem manajemen di Indonesia. Jakarta: Rineka cipta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar