Selasa, 27 Mei 2008

Semangat Wirausaha Seorang Manusia Bebas

Semua Ingin Jadi Pegawai Sejak dulu kayaknya sih kalo ada anak kecil ditanya, "Ntar kalo sudah gede mau jadi apa?" pasti jawabannya sekitar, "Saya mau jadi dokter" atau "Saya mau jadi polisi" dan sejenisnya. Koq nggak ada yang menjawab, "Saya mau jadi pengusaha" atau "Saya mau jadi pemilik supermarket" atau sejenisnya. Mungkin karena kalimat "wirausaha" atau "pengusaha" jarang mereka dengar di rumah atau di sekolah apalagi di lingkungan mereka bermain. Bahkan sampai mereka beranjak besar, selama bersekolah atau kuliah, sangat sedikit yang mendapat bimbingan atau informasi yang cukup tentang kewirausahaan. Umumnya mereka diarahkan untuk menjadi pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta. Itu sebabnya, setiap ada pendaftaran calon pegawai negeri sipil, TNI atau Polri selalu dipenuhi para pelamar hingga berdesakan. Kondisi serupa juga terjadi saat ada bursa tenaga kerja, baik yang diselengggarakan oleh pemerintah (Depnaker) maupun lembaga-lembaga swasta. Ketidakadilan Memang secara umum, kita cenderung mencari "aman"-nya aja-lah.. Menjadi pegawai, secara finansial jelas relatif lebih aman. Karena tiap bulan pasti terima duit. Tetapi karena sifatnya yang "time based" (gaji dihitung berdasarkan waktu; harian,mingguan,bulanan) maka terjadi ketidakadilan. Baik bagi si pegawai, perusahaan, maupun negara. Bagi pegawai swasta yang punya dedikasi dan loyalitas tinggi jelas rugi, karena gajinya sama dengan teman dia yang bekerja dengan setengah hati. Ini khan nggak adil. Karena kerja keras dan kerja santai tetap terima gaji yang sama, mending kerja santai aja.. Jadinya,nggak adil buat perusahaan. Sedangkan pegawai di instansi pemerintah lebih parah, maan... Datangnya udah telat, baru tengah hari udah kabur entah kemana. Ada yang shopping di mall (yang beginian sering kena razia Satpol PP), nongkrong di warung, atau pulang ke rumah. Kalo ketahuan atasan paling ditegur dan nggak bakalan mungkin dipecat. Yang masih bertahan di kantor ada yang asyik main catur, baca koran atau berselancar di internet menjelajahi situs-situs "ehm..". Bukan karena sudah nggak ada kerjaan, tetapi rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan memang kurang. Lha wong mau rajin mau enggak toh gajinya ya tetap segitu aja,.. Ya mending , "Santai aja Bleeh,.....". :-) Kalo sudah begini jelas nggak adil buat negara (rakyat) yang sudah menggaji mereka. Beda dengan seorang wirausahawan. Nggak kerja keras ya nggak dapat duit. Makin kerja keras ya makin banyak dapat duit. Istilahnya "Content Based", meminjam istilahnya toekang internet. Tulang Pungggung Ekonomi Nasional Dan dimana-mana yang namanya wirausahawan punya kontribusi gede buat negara secara ekonomi. Istilahnya, wirausahawan adalah tulang punggung perekonomian nasional. Itu sebabnya saya nggak heran kalo Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah bermaksud untuk mencetak 1.000 wirausahawan tiap tahun untuk mempercepat dan memperkuat perekonomian Jawa Tengah. Jadi jangan meremehkan tukang bakso, pedagang asongan, dll. Mereka adalah "entrepreneur" (wirausahawan) yang memiliki "spirit of entrepreneurship" (semangat wirausaha) , manusia bebas yang sudah menjadi Boss, setidaknya bagi diri sendiri. Bukan seorang pegawai manapun. Kenapa kita nggak ingin seperti mereka, menjadi manusia bebas? Salam sukses-sesukses-suksesnya,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar