Minggu, 14 Desember 2008

How attitude not afraid lose face to be required to become richly

How attitude not afraid lose face to be required to become richly. (Bagaimana sikap tidak takut malu dibutuhkan untuk menjadi kaya.) by Hengky Andrian Saya senang sekali ketika teman saya “mas Tomo” menceritakan success story orang– orang yang ada di Indonesia beberapa pekan yang lalu. Saya selalu antusias dan begitu terobsesi ketika cerita selesai. Sayapun kemudian mulai berangan-angan dan memikirkan ide-ide apa saja yang bisa saya kembangkan untuk success seperti tokoh-tokoh itu. Tapi kali ini saya bukan ingin mengungkapkan ide-ide saya kepada anda tapi lebih dari itu. Saya lanjutkan lagi cerita saya, akhirnya saya sempat berdiskusi dan bertanya jawab kepada sahabat saya tersebut yang berujung sampai bahasan mengenai malu. Lho kok malu ? Temen saya tadi beragumen bahwa dari berbagai kisah tokoh-tokoh tadi ternyata ada beberapa kesamaan dalam sikap yakni mereka semua tidak takut malu walaupun kadang background mereka sarjana ataupun dari lingkungan mapan. Salah satunya : Om Bob Sadino, saya yakin anda pasti kenal beliau. Brand image celana pendek sangat melekat pada beliau, karena kemana-mana beliau sering pake celana pendek. Tapi saya yakin tidak semua dari anda tahu kisah sukses dari beliau. Om Bob berwirausaha karena kepepet, selepas SMA tahun 1953, ia bekerja di Unilever kemudian masuk ke Fakultas Hukum UI karena terbawa oleh teman-temannya selama beberapa bulan. Kemudian dia bekerja pada McLain and Watson Coy, sejak 1958 selama 9 tahun berkelana di Amsterdam dan Hamburg. Setelah menikah, om Bob dan istri memutuskan menetap di Indonesia dan memulai tahap ketidaknyamanan untuk hidup miskin, padahal waktu itu istrinya bergaji besar. Hal ini karena ia berprinsip bahwa dalam keluarga laki-laki adalah pemimpin dan ia pun bertekad untuk tidak jadi pegawai dan berada di bawah perintah orang sejak saat itu ia pun bekerja apa saja mulai dari sopir taksi hingga mobilnya tertubruk dan hancur kemudian kuli bangunan dengan upah Rp 100 per hari. Suatu hari seorang temannya mengajaknya untuk memelihara ayam untuk mengatasi depresi yang dialaminya, dari memelihara ayam tersebut ia terinspirasi bahwa kalau ayam saja bisa memperjuangkan hidup, bisa mencapai target berat badan dan bertelur, tentunya manusia pun juga bisa, sejak saat itulah ia mulai berwirausaha. Awalnya adalah sebagai peternak ayam, om Bob menjual telor beberapa kilogram per hari bersama istrinya. Dalam satu setengah tahun, dia sudah banyak relasi karena menjaga kualitas dagangan, dengan kemampuannya berbahasa asing ia berhasil mendapatkan pelanggan orang-orang asing yang banyak tinggal di kawasan Kemang, tempat tinggal om Bob ketika itu. Selama menjual tidak jarang dia dan istrinya dimaki-maki oleh pelanggan bahkan oleh seorang babu. Namun om Bob segera sadar kalo dia adalah pemberi service dan berkewajiban memberi service yang baik, sejak saat itulah dia mengalami titik balik dalam sikap hidupnya dari seorang feodal menjadi servant, yang ia anggap sebagai modal kekuatan yang luar biasa yang pernah ia miliki. Contoh lain : Alim Markus presiden direktur Grup Maspion. Maspion dan Alim Markus adalah dua nama yang tak terpisahkan. Di Jawa Timur, orang mengenal nama Maspion sebagai kelompok usaha besar, yang menjamah berbagai bidang usaha: industri peralatan rumah tanga, elektronik, perbankan, real estate hingga perbisida. Pria berperawakan sedang ini rela mengorbankan pendidikan dan masa kecilnya untuk mulai berkiprah di dunia bisnis. “Saya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas dua SMP karena keburu membantu usaha orang tua,” menurut Markus. Ya, pada usia 15 tahun, sebagai anak tertua Alim Markus, lelaki yang kini berusia 44 tahun itu diminta untuk membantu bisnis keluarganya, PT Logam Djawa – produsen peralatan rumah tangga sederhana yang terbuat dari alumunium, seperti panci dan wajan. Mulailah Remaja cilik Markus meninggalkan pendidikan formal di sekolah, dan memasuki ajang pendidikan yang lebih luas: dunia business. Ia keluar masuk pasar dan toko untuk menjajakan barangnya. Bertemu dengan berbagai macam orang, dengan karakternya yang beragam. Dari pergaulan itulah ia menimbah ilmu yang tidak pernah diajarkan di Sekolah. Tidak takut malu, itu salah satu kuncinya. Om Bob tidak pernah malu untuk bekerja dibidang apapun bahkan pernah menjadi kuli bangunan. Tidak pernah malu juga ketika harus dimaki-maki ketika menjual telor ayam (sama pembantu lagi! Luarbiasa bukan) sedangkan bapak Alim Markus pun juga tidak pernah malu untuk memulai uasahanya dengan memasarkan barang dagangan keluar masuk pasar. Maukah kita belajar dan kuat bertahan seperti itu ? bagaimana menurut anda ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar