Minggu, 14 Desember 2008

Setiap Orang Tua Bisa Menjadi Pendongeng

Sekelompok pegiat seni teater Islami yang tergabung dalam Teater Kanvas yang dipimpin Jack Sorga mencoba terobosan baru dalam dongeng. Mereka mencoba menampilkan dongeng dengan wajah lain. Yaitu, campuran antara dongeng dengan seni teater. Hasilnya, jadilah bendera Klub Dongeng Kanvas. Dongeng bukan hal baru dalam dunia anak. Justru saat ini, dongeng menjadi sesuatu yang terlupakan. Padahal, salah satu media pendidikan anak ini begitu sarat dengan nilai dan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kepribadian anak. Sekelompok pegiat seni teater Islami yang tergabung dalam Teater Kanvas yang dipimpin Jack Sorga mencoba terobosan baru dalam dongeng. Mereka mencoba menampilkan dongeng dengan wajah lain. Yaitu, campuran antara dongeng dengan seni teater. Hasilnya, jadilah bendera Klub Dongeng Kanvas. Dari bendera inilah, aktivis Teater Kanvas ini berdakwah kepada anak-anak lewat dongeng ala Kanvas. Berikut penuturan salah seorang aktivisnya, Mintaryono atau Kak Yono kepada Eramuslim. Apa yang digagas Teater Kanvas dalam pentas seni Islam? Sebenarnya saya kurang kompeten untuk menjawab ini. Mungkin Mas Jack (Jack Sorga atau Zakaria, red) yang lebih pas menjawab. Tapi, saya akan coba memberikan gambaran bahwa Teater Kanvas adalah sekelompok pegiat seni teater yang ingin mengangkat tema Islam sebagai media perjuangan. Terutama untuk syiar Islam. Baik isu dalam negeri, maupun luar negeri seperti Palestina. Dari situ, masyarakat akan melihat ada pilihan dalam dunia teater. Sejak kapan Teater Kanvas melakukan pengembangan dalam bentuk dongeng anak Islam? Kelahirannya bertepatan dengan Ramadhan dua tahun lalu, September 2006. Media dongeng anak Islam ini lahir sebagai pertimbangan bahwa pentas teater selama ini agak memberatkan, terutama dari sisi pendanaan. Biayanya terlalu mahal, sementara sumberdaya masih belum memadai. Beberapa waktu lalu, sempat terpikir untuk menyelenggarakan pentas teater dalam rangka 20 tahun Teater Kanvas. Tapi, kalkulasi dananya ternyata begitu besar. Padahal, skenario sudah rampung. Ada yang mau ngasih dana, tapi kita tolak. Pasalnya, dana tersebut berasal dari iklan rokok. Dari pertimbangan itulah, saya dan teman-teman di Kanvas mencoba membuat terobosan baru, yaitu dongeng anak. Dari hasil rembukan akhirnya tercetuslah nama Klub Dongeng Kanvas. Ada beberapa teman yang saat ini sudah turun selain saya, ada Dwi, Imam, Hikmat, dan Agung. Bagaimana cara pengelolaan skil dongeng karena itu masih tergolong baru buat Kanvas? Caranya sederhana. Saya dan teman-teman yang bertekad turun di media dongeng melakukan presentasi di depan teman-teman yang lain. Dari situ ada masukan, mulai dari konten sampai pada gaya. Kemudian kita diuji langsung berhadapan dengan anak-anak. Akhirnya di Mimaza (Masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marjuki, red) yang juga sekretariat kita, diundang anak-anak TPA. Di situ kita coba tampil. Saat itulah, yang lain memberikan masukan-masukan yang lebih memperkaya dongeng kita. Kenapa mengambil garapan dari sisi anak-anak yang akhirnya menjadi dongeng anak Islam? Ya, kita berangkat dari keprihatinan dengan kondisi anak-anak kita yang terus-menerus tercekoki hiburan ghazwul fikri (serangan pemikiran dari musuh Islam, red). Dari pagi sampai pagi lagi. Dari kartun sampai aneka game. Mereka jadi kehilangan sosok pahlawan Islam, teladan para salafus saleh. Dan itu anak-anak kita, generasi kita masa depan. Selain itu, kita perlu menghidupkan sebuah media pendidikan anak yang murah meriah. Bisa dilakukan siapa pun. Itulah dongeng atau cerita. Ada hal lain yang juga cukup bernilai. Bahwa, Islam begitu sarat dengan media cerita. Dan ini bukan khusus anak-anak saja. Dalam Alquran kita mendapati surah Al-Qashshash yang artinya kisah-kisah. Rasulullah saw. pun sering menjadikan cerita sebagai media penyampaian tarbiyah kepada para sahabat. Ada klasifikasi dongeng yang Anda sampaikan, misalnya dari sisi usia audiens, isu, dan sebagainya? Kita membagi terminologi model cerita menjadi tiga: dongeng, cerita, dan kisah. Kalau dongeng, murni seratus persen adalah fiksi. Seperti dongeng si kancil, kodok, dan lain-lain. Di sini kita merangsang anak-anak untuk mengembangkan imajinasi mereka tentang sebuah peristiwa, sosok, cara penyelesaian masalah, dan sebagainya. Cerita adalah campuran antara fiksi dan fakta. Sementara kisah kebalikan dari dongeng, ia sejarah. Misalnya, kisah para nabi, sahabat Rasul, salafus saleh, dan sebagainya. Bagaimana Anda memilih mana yang mesti disampaikan ke anak-anak, antara dongeng, cerita, atau kisah? Bisa pesanan dari panitia, bisa juga inisiatif si pendongeng sendiri. Tapi, terlepas dari apakah pilih yang mana, biasanya kita harus sudah punya perkiraan target dari pentas dongeng itu. Apa sih yang diinginkan peserta. Dari situlah, kita menganalisa dan membuat kerangka cerita. Baru kemudian, memilih model yang pas untuk ditampilkan. Pentasnya dilakukan sendiri atau ada tim? Biasanya berdua. Satu orang menyampaikan narasi cerita, dan yang lain menjadi pemain. Untuk pentas seperti ini biasanya saya mengenakan make up. Ini untuk menguatkan karakter peran. Menurut Anda, bagaimana cara membagi materi cerita yang cocok untuk anak TK, SD, atau remaja? Untuk anak TK biasanya bertema tentang kegiatan keseharian mereka. Misalnya, menggosok gigi, dan sebagainya. Untuk jenis audiens ini dibutuhkan alat peraga. Alatnya bisa boneka atau gambar. Dari situ mereka bisa melihat sosok yang disampaikan. Setelah itu, baru suara. Misalnya, bagaimana sih suara gajah, ayam, dan lain-lain. Sementara buat anak-anak SD kelas 4 ke atas, mereka nggak perlu lagi alat peraga. Mereka lebih senang dengan cerita petualang yang heroik. Misalnya kisah para nabi. Saya biasanya menyampaikan kisah Nabi Nuh dan Musa. Bagaimana apresiasi masyarakat terhadap dongeng Islam? Memang selama ini masih kurang. Kalau dengar nama dongeng, kok, kayaknya jadul amat gitu. Mungkin, ini karena kurang sosialisasi dan publiksasi. Sehingga masyarakat merasa asing dengan dongeng Islam. Terobosan yang Anda dan teman-teman lakukan untuk menyaingi media hiburan anak-anak yang moderen saat ini? Kita memang terus melakukan diskusi, ujicoba untuk menampilkan sesuatu yang baru. Tidak seperti dongeng yang umumnya ditampilkan. Misalnya, kita coba dengan gaya teater. Ada narasi, ada pemeran yang tampil dengan make up, dan ada musik ilustrasi. Alhamdulillah, terobosan itu cukup mendapatkan apresiasi di masyarakat. Bagaimana jika para orang tua atau guru ingin menyampaikan dongeng kepada anak-anak atau murid mereka. Ada cara praktis yang bisa dicoba? Kita pernah mengadakan workshop dongeng untuk para pendidik, yang waktu itu umumnya guru TK dan TPA. Alhamdulillah, hasilnya lumayan bagus. Untuk para orang tua yang ingin mendongeng, caranya sebetulnya gampang. Cukup ada dua suara yang berbeda, anak-anak akan tertarik untuk menyimak. Mungkin awalnya, mereka akan biasa-biasa saja. Kalau anak-anak masih belum tertarik, coba pancing mereka untuk bercerita lebih dulu. Ini untuk mengkondisikan anak-anak supaya bisa konsentrasi dan tertarik. Dari situ, baru kita masuk. Kira-kira itulah pengalaman saya di rumah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar